← Kembali ke Blog

Havedev

Penonton Tidak Selalu Butuh Drama Tech CEO Lagi

Penonton Tidak Selalu Butuh Drama Tech CEO Lagi

The Core Update

Film baru Aaron Sorkin, The Social Reckoning, dibuka lebih lemah dari perkiraan. Menurut estimasi akhir pekan, film ini hanya menuju pendapatan sekitar 5,5 juta dolar di box office domestik.

Angka ini berada di bawah proyeksi studio yang sebelumnya sudah tidak terlalu tinggi, yaitu sekitar 7 sampai 8 juta dolar.

Perbandingannya terasa cukup kontras dengan The Social Network pada 2010. Film itu membuka akhir pekan dengan 22 juta dolar, menghasilkan 97 juta dolar secara domestik, memenangkan Oscar untuk Sorkin, dan menjadi salah satu gambaran paling berpengaruh tentang Silicon Valley, startup, dan ambisi teknologi.

Tetapi konteks hari ini berbeda.

The Social Reckoning tidak lagi bercerita tentang energi awal Facebook, ruang dorm, konflik founder, dan mitologi startup yang sedang naik. Film ini lebih berat. Fokusnya adalah Frances Haugen, Facebook Files, hearing Senat, dan dampak algoritma terhadap masyarakat.

Di saat yang sama, Hollywood sedang masuk ke fase baru: banyak cerita tentang tech CEO nyata yang diposisikan sebagai figur bermasalah. Ada dokumenter tentang Elon Musk. Ada film dokumenter tentang Elizabeth Holmes. Ada drama ruang rapat OpenAI. Netflix juga menyiapkan serial tentang Sam Bankman-Fried dan runtuhnya FTX.

Artinya, masalah The Social Reckoning mungkin bukan hanya satu film yang kurang kuat. Ia bisa menjadi tanda bahwa audiens mulai lelah dengan pola cerita yang sama: teknologi besar, founder besar, skandal besar, lalu konsekuensi besar.

The Reality Check

Ada asumsi yang sering muncul di industri media dan teknologi: kalau sebuah cerita menyentuh Big Tech, algoritma, atau CEO terkenal, publik pasti tertarik.

Dulu asumsi itu cukup masuk akal.

The Social Network hadir ketika Facebook masih terasa seperti simbol masa depan. Startup culture sedang naik. Silicon Valley terlihat seperti tempat yang bisa mengubah dunia, meskipun dengan cara yang berantakan. Penonton tidak hanya menonton konflik perusahaan. Mereka menonton lahirnya kekuatan baru.

Sekarang, posisi emosional penonton berbeda.

Banyak orang tidak lagi melihat Big Tech sebagai sesuatu yang baru. Mereka sudah hidup di dalamnya. Mereka sudah memakai platformnya, merasakan iklannya, membaca kontroversinya, melihat hearing-nya, dan mendengar janji regulasinya berkali-kali.

Kritik terhadap Facebook juga tidak lagi terasa segar seperti dulu. Bagi sebagian audiens, masalah Facebook sudah masuk kategori lama: penting, tetapi bukan lagi sumber kecemasan utama.

Hari ini, kecemasan teknologi lebih banyak berpindah ke AI.

Orang bertanya apakah pekerjaannya akan berubah. Bisnis bertanya apakah prosesnya akan terganggu. Founder bertanya apakah produk mereka masih relevan. Tim marketing bertanya apakah konten, pencarian, dan iklan akan berubah. Developer bertanya skill mana yang masih bernilai.

Di tengah rasa tidak pasti itu, film tentang dokumen internal Facebook dan hearing Senat bisa terasa seperti berita lama, meskipun isu dasarnya tetap penting.

Ini pelajaran penting untuk bisnis teknologi juga.

Tidak semua topik penting otomatis terasa mendesak bagi audiens. Tidak semua masalah besar otomatis punya perhatian besar. Dan tidak semua cerita yang benar secara substansi akan berhasil jika timing emosionalnya tidak tepat.

Banyak bisnis mengalami versi kecil dari masalah yang sama.

Mereka membuat konten tentang fitur yang menurut tim internal penting. Mereka menulis halaman layanan dengan bahasa yang menurut founder lengkap. Mereka membangun campaign berdasarkan isu yang menurut perusahaan strategis. Tetapi calon pelanggan sedang memikirkan masalah lain.

Perusahaan bicara tentang sistem. Pelanggan memikirkan risiko.

Perusahaan bicara tentang dashboard. Pelanggan memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Perusahaan bicara tentang AI. Pelanggan memikirkan apakah timnya siap memakai AI tanpa membuat proses makin kacau.

Ketika jarak ini terlalu besar, pesan tidak gagal karena salah. Pesan gagal karena tidak bertemu dengan kegelisahan audiens hari ini.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, kabar ini bukan sekadar tentang film yang kurang laku. Ini pengingat bahwa perhatian audiens adalah konteks, bukan hak otomatis.

Sebuah topik bisa besar, terkenal, dan relevan secara historis, tetapi tetap tidak cukup kuat jika tidak menjawab pertanyaan yang sedang hidup di kepala audiens.

Untuk bisnis, ini berlaku saat membuat website, landing page, konten edukasi, campaign, atau automation.

Sebelum bicara terlalu jauh tentang solusi, bisnis perlu bertanya:

  • masalah apa yang sedang terasa paling dekat bagi pelanggan sekarang?
  • apakah bahasa kita mengikuti cara pelanggan menjelaskan masalah itu?
  • apakah halaman website menjawab risiko yang mereka khawatirkan?
  • apakah konten kita membantu keputusan, bukan hanya menunjukkan pengetahuan?
  • apakah call-to-action muncul setelah konteksnya cukup jelas?

Banyak website gagal bukan karena desainnya buruk. Banyak website gagal karena narasinya telat membaca perubahan perhatian pelanggan.

Contohnya, bisnis yang menjual automation tidak cukup hanya bilang bahwa automation bisa menghemat waktu. Itu terlalu umum. Pertanyaan yang lebih dekat dengan pelanggan mungkin berbeda: proses mana yang paling sering tertunda, data mana yang sering salah, follow-up mana yang sering lupa, dan keputusan mana yang terlalu lama menunggu update manual.

Bisnis yang menjual AI juga tidak cukup hanya bilang memakai teknologi terbaru. Pelanggan tidak selalu membeli AI karena ingin terlihat modern. Mereka sering mencari cara agar tim lebih cepat merespons, dokumen lebih mudah diproses, support lebih rapi, atau laporan lebih mudah dibaca.

Di sinilah strategi digital perlu lebih jujur.

Bukan semua tren harus dikejar. Bukan semua isu besar harus dijadikan pesan utama. Bukan semua fitur harus ditaruh di halaman depan.

Yang lebih penting adalah menemukan titik temu antara kemampuan bisnis dan kegelisahan pelanggan saat ini.

Jika pelanggan sedang cemas soal efisiensi, bicara tentang alur kerja. Jika pelanggan sedang cemas soal kualitas respons, bicara tentang follow-up. Jika pelanggan sedang cemas soal AI, bicara tentang kesiapan data, SOP, dan batasan penggunaan. Jika pelanggan sedang bingung memilih tool, bicara tentang prioritas proses sebelum membeli software.

Pelajaran dari The Social Reckoning cukup sederhana: cerita tentang teknologi tidak otomatis menarik hanya karena teknologinya penting.

Cerita harus datang pada waktu yang tepat, dengan sudut yang tepat, dan dengan masalah yang masih terasa hidup bagi audiens.

Hal yang sama berlaku untuk bisnis.

Website, konten, dan automation tidak cukup hanya menjelaskan apa yang perusahaan bisa lakukan. Mereka harus membantu calon pelanggan merasa: ini masalah saya, ini bahasa saya, dan ini langkah berikutnya yang masuk akal.

Kalau pesan digital bisnis mulai terasa sepi, jangan langsung menambah channel baru. Cek dulu apakah pesan itu masih membaca kegelisahan pelanggan hari ini.

Karena sering kali, masalahnya bukan kurang publikasi. Masalahnya adalah cerita yang disampaikan sudah tidak berada di pusat perhatian audiens.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, konten, dan automation bisnis Anda masih menjawab masalah pelanggan yang paling relevan hari ini.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca